1. PROPOSAL KUANTITATIF
PROPOSAL
PENELITIAN KUANTITATIF
PENGARUH METODE TANYA JAWAB TERHADAP
HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS
IX MTS WALI SONGO SUKAJADI
Dosen Pngampu: Drs. Zuhairi,M.Pd
OLEH :
IMAS TITIN 14114451
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN )
JURAI SIWO METRO LAMPUNG
TAHUN AJARAN 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..1
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………..2
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………………..2
- Identifikasi Masalah …………………………………………………………………………3
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………3
- Tujuan Dan Manfaat Penelitian ………………………………………………………….3
BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN JUDUL ………………………………………………………………………………………..4
- Landasan Teori ………………………………………………………………………………..4
- Kerangka Berfikir …………………………………………………………………………….7
- Hipotesis ………………………………………………………………………………………..7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN …………………………………………………..8
- Rancangan Penelitian ……………………………………………………………………….8
- Variabel Dan Definisi Variabel …………………………………………………………8
- Populasi,Sampel, Dan Tehnik Sampling …………………………………………….9
- Tehnik Pengumpulan Data ………………………………………………………………10
- Instrumen Penelitian……………………………………………………………………….10
- Tehnik Analisis Data ………………………………………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………12
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran adalah
proses yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik atau
lingkungan dengan peserta didik baik individual maupun kelompok dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran atau hasil belajar yang telah
ditentukan sebelumnya.
Menurut Hamalik (2009:1)
“hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi
perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”. Keberhasilan
suatu proses belajar mengajar tidak terlepas dari faktor-faktor yang
berperan didalamnya, baik faktor intern maupun eksternal. Faktor
internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar,
yang meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis, dan Faktor
eksternal adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi: faktor
keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Metode pembelajaran adalah
salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi tercapainya hasil belajar.
Karena metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar
siswa yang tidak baik pula. Metode tanya jawab adalah cara penyajian
pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru
kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Dengan
penggunaan metode tanya jawab ini akan meningkatkan keaktifan siswa
berupa pertanyaan atau jawaban siswa sehingga berimplikasi pada
peningkatan hasil belajar siswa.
Dengan mengetahui hal
tersebut maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai Apakah ada
pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran
Fiqih Kelas IX di MTs Wali Songo Sukajadi. Hal tersebut didasarkan atas
hasil belajar di sekolah tersebut masih kurang, dan pembelajaran masih
bersifat teacher center
- Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah tersebut dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
- Hasil belajar yang masih kurang
- Metode pembelajaran yang bersifat teacher center
- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalahnya
adalah apakah ada pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar
siswa mata pelajaran Fiqih kelas IX di MTs Wali Songo Kampung Sukajadi ?
- Tujuan dan Manfaat Penelitan
Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar
siswa mata pelajaran Fiqih kelas IX di MTs Wali Songo Kampung Sukajadi.
Sedangkan iamanfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
antara lain:
- Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan pemikiran dan menjadi bahan pertimbangan dalam
menentukan langkah kebijaksanaan sebagai upaya peningkatan mutu
pendidikan.
- Manfaat Praktis
- Bagi pendidik, meningkatkan kekreatifitasan pendidik dalam menggunakan metode pembelajaran
- Menjadi referensi bagi Madrasah yang dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan hasil belajar
- Bagi peneliti, menambah wawasan dan pengalaman yang berharga sebelum terjun langsung dalam bidang pendidikan.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR,
DAN PENGAJUAN JUDUL
- LANDASAN TEORI
- HASIL BELAJAR
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran.
Suprijono mendefinisikan hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian,sikap-sikap, apresiasi, dan
keterampilan.
[1]
Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada
hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam
pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil
belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses
evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar. Menurut Bloom
(Suprijono, 2002:6), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif,
afektif,dan Psikomotorik.
- Domain kognitif mencakup: knowledge (pengetahuan, ingatan),
comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (
menerapkan), analysis( menguraikan, menentukan hubungan), synthesis
9mengorganisasikan. merencanakan, membentuk bangunan baru), evaluating(
menilai)
- Domain afektif mencakup: receiving ( menerima), responding (
memberikan respon), valuing (nilai), organization ( organisasi),
characterization ( karakterisasi)
- Domain Psikomotorik: initiatory, pre-routine, routinized,
keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan
intelektual[2]
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulakn bahwa hasil belajar
adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui
kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang
akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini adalah
hasil belajar kognitif fiqih. Instrumen yang digunakan untuk mengukur
hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah tes.
- Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan
pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Menurut Purwanto
(2002:102), berhasil atau tidaknya suatu belajar dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor yang dibedakan menjadi dua golongan
yaitu faktor individual atau intern dan faktor yang ada di
luar individuatau ekstern.
[3]
- Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang
sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah, psikologis,
dan kelelahan.
- Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor
eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor
masyarakat.
- METODE TANYA JAWAB
Metode mengajar adalah suatu cara
atau jalan yang harus dilalui didalam mengajar. mengajar adalah
menyajikan bahan pelajaran oleh orang kepada orang lain agar orang lain
itu memnerima, mengausai, dan mengembangkannya di dalam lembaga
pendidikan, orang lain yang disebut di atas disebut sebagai murid atau
siswa dan mahasiswa, yang dalam proses belajar agar dapat menerima,
mengausai dan lebih-lebih mengembangkan bahan pengajaran itu, maka
cara-cara mengajar serta cara belajar haruslah setepat-tepatnya. dan
seefektif mungkin
[4]
Dari uraian tersebut dapat dipahami
bahwa metode mengajar mempengaruhi belajar. metode mengajar guru yang
kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula, dan
sebaliknya. Biasanya guru lebih sering menggunkan metode ceramah saja,
maka implikasinya adalah siswa akan cepat bosan dan mengantuk, pasif dan
hanya mencatat saja. Guru yang progresif berani mencoba metode baru
yang dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan motivasi siswa
dalam belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode
mengajar harus setepat, efisien, dan seefektif mungkin. Salah satu
metode pembelajaran yang dapt meningkatkan keaktifan siswa adalah metode
tanya jawab.
Metode tanya jawab dalam dunia
pendidikan merupakan salah satu metode pembalajaran konvensional yang
sering digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas, selain metode
ceramah dan diskusi. metode ini sering disandingkan dengan metode
ceramah dan metode diskusi. Metode ini memang tepat digunakan untuk
menjawab materi yang dirasa belum dipahami oleh siswa. Hal ini juga
senada dengan pendapatnya Roestiyah (2008:129) yang menyatakan bahwa:
Metode tanya jawab merupakan suatu teknik untuk memberi siswa agar
bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan pelajaran, atau
guru yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, siswa menjawab. Pasti
saja pertanyaan-pertanyaan itu mengenai isi pelajaran yang sedang
diajarkan guru; dan siswa seharusnya sudah mengerti; atau pertanyaan
yang lebih luas asal berkaitan dengan pelajaran, atau juga mungkin
pengalaman yang dihayati dengan tanya-jawab itu, pelajaran akan lebih
mendalam dan meluas.
[5]
Menurut syaiful bahri djamarah dan aswan zain tanya jawab adalah cara
penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama
oleh guru kepada siswa dan sebaliknya.Sedangkan menurut daryanto tanya
jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus
dijawab terutama dari penyaji kepada peserta, tetapi dapat pula dari
peserta kepada penyaji.
[6]
Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui
interaksi dua arah dari guru kepada siswa dari siswa kepada guru agar
diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau
siswa. Dalam metode ini guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut
aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru.
- KERANGKA BERFIKIR
Peneliti merumuskan kerangka berfikir sebagai berikut: Dengan
penggunaan metode tanya jawab ( variabel bebas) maka akan menjadikan
proses pembelajaran menjadi dua arah sehingga peserta didik menjadi
aktif (moderator), kemudian implikasi dari pembelajaran aktif tersebut
maka akan meningkatkan hasil belajar siswa ( variabel terikat)
- HIPOTESIS PENELITIAN
Dalam penelitian ini terdapat dua hipotesis
yaitu hipotesis alternative (ha) dan hipotesis nihil (ho). Rumusan
hipotesis sebagai berikut:
Ha : Terdapat pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Fiqih MTs Wali Songo Sukajadi
Ho : Tidak ada pengaruh metode tanya jawab terhadpa hasil belajar
mata siswa mata pelajaran Fiqih MTs Wali Songo
Sukajadi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
- RANCANGAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode eksperimen.
Sedangkan prosedur penelitian dalam penelitian adalah sebagai berikut:
- Peneliti melakukan persiapan berupa rencana pembelajaran yang akan
dilakukan dan membagi sampel menjadi dua kelompok serta menentukan
kelompok mana yang akan menjadi kelompok ekperimen dan mana yang akan
menjadi kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen, pembelajaran
menggunakan metode tanya jawab, dan pada kelompok kontrol menggunakan
metode ceramah.
- Tahap kedua peneliti melakukan langkah pelaksanaan yang meliputi
penyampaian bahan pelajaran dengan menggunakan metode tanya jawab pada
kelompok eksperimen, dan memberi kesempatan kepada peserta didik atau
siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan.
- Tahap ketiga adalah tahap evaluasi adalah mengadakan penilaian
terhadap pemahaman siswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
- Desain pos tes kelompok kontrol subjek random
Desain ini menggunakan pemilihan subjek secara acak dan melibatkan
dua kelompok subjek (kelompok eksperimen dan kontrol) tanpa pretes.
Desainnya adalah:
|
Kelompok |
Perlakuan |
Postes |
| (R) |
Eksperimen |
X |
O2 |
| (R) |
Kontrol |
– |
O2 |
- VARIABEL DAN DEFINISI VARIABEL
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel
dalam penelitian ini adalah:
- Metode tanya jawab sebagai variabel bebas yang mempengaruhi hasil hasil belajar.
- Keaktifan siswa merupakan variabel moderator adalah variabel yang
mempengaruhi tingkat hubungan (pengaruh) variabel bebas terhadap
variabel terikat. Atau hubungan/pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat memiliki nilai yang berbeda pada level yang berbeda.
- Hasil belajar menjadi variabel terikat. yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dan variabel moderator
- POPULASI, SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING
- Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas:
obyektif/subyektif yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan.
[7] Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Wali Songo Kampung Sukajadi.
- Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut. Sampel diambil dari populasi penelitian yang
mencerminkan dari segala sesuatu populasi dan diharapkan dapat mewakili
seluruh anggotanya.
[8]
Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas IX A MTs Wali Songo
Kampung Sukajadi yang dibagi menjadi 2 kelas. yaitu sebagai kelas
eksperimen dan kelas kontrol
- Teknik Sampling
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil metode Simple random
sampling, yaitu pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Dalam penelitian
ini peneliti membagi siswa kelas IX A menjadi dua kelas. Satu kelas
diajar dengan metode ceramah, dan yang satunya menggunakan metode tanya
jawab.
- TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik sebagai berikut:
- Observasi, Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan
secara sistematis terhadap gejala-gejala yang tampak pada objek
penelitian. yaitu gejala-gejala dalam proses pembelajaran
- Tes, yaitu serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang
digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan
atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Penggunaan teknik
ini yaitu untuk mengukur pengetahuan siswa setelah mengikuti
pembelajaran.
- INSTRUMEN PENELITIAN DATA
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan mengukur
fenomena-fenomena alam maupun sosial yang diamati. secara spesifik
fenomena tersebut disebut variabel, dan dalam penelitian ini peneliti
menggunakan instrumen penelitian tes yaitu dengan pemberian
pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pelajaran yang telah disampaikan
dengan metode tanya jawab dan lembar observasi aktivitas belajar siswa,
yaitu dengan melihat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
- TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah Dengan menggunakan rumus
Chi Kuadrat sebagai berikut:
Keterangan: X
2 :
Chi Kuadrat
fo : frekuensi yang diperoleh dari tes
fh : frekuensi yang diharapkan
[9]
DAFTAR PUSTAKA
Thobroni,Muhammad and Arif Mustofa,
Belajar dan Pembelajaran, 2nd edition (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013)
Jubaedah, Endang,
Penerapan Metode Tanya Jawab dengan Teknik
Probing-Prompting untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa
dalam Pembelajaran Sejarah di Kelas XI IPA 4 SMAN Bandung. (2013)
Bahri Djamarah,Syaiful and Aswan Zain,
Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010)
Sugiyono,
Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011)
Sudijino,Anas,
Pengantar Statistika Pendidikan, ( Jakarta: Raaja Grafindo, 2008)
[1] Muhammad Thobroni and Arif Mustofa,
Belajar dan Pembelajaran, 2nd edition (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), p. 22
[2]
Ibid., p. 24.
[3]
Ibid., p. 32.
[4] Ibid., p. 65.
[5] Endang Jubaedah,
Penerapan
Metode Tanya Jawab dengan Teknik Probing-Prompting untuk Meningkatkan
Kemampuan Berfikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Sejarah di Kelas XI
IPA 4 SMAN Bandung. (2013), p. 1.
[6] Syaiful Bahri Djamarah and Aswan Zain,
Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), p. 94.
[7]Sugiyono,
Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 117.
[8]Ibid., h.118.
[9]Anas Sudijino,
Pengantar Statistika Pendidikan, ( Jakarta: Raaja Grafindo, 2008), h. 250.
REF :
https://1massite.wordpress.com/2017/09/27/contoh-format-proposal-kuantitatif/
2. PROPOSAL KUALITATIF
UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi
PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF
Disusun untuk Memenuhi Tugas Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : ………
Oleh:
………….
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI BALIKPAPAN
Tahun 20../20..
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..1
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………..2
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………………..2
- Fokus Penelitian …………………………………………………………………………3
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………3
- Tujuan Dan Manfaat Penelitian ………………………………………………………….3
BAB II STUDI KEPUSTAKAAN………………………………………………………………………………………..4
- Landasan Teori ………………………………………………………………………………..4
- Kerangka Berfikir …………………………………………………………………………….7
- Hipotesis ………………………………………………………………………………………..7
BAB III METODOLOGI PENELITIAN …………………………………………………..8
- Metode Dan Alasan mengunakan metode ………………………………………………….8
- Tempat Penelitian …………………………………………………………8
- Sampel Data…………………………………………….9
- Teknik pengumpulan data ………………………………………………………………10
- Teknik Analisis data…………………………………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………12
- PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah pubertas atau adolescensia
umum di maknai dengan masa remaja, yaitu masa perkembangan sifat
tergantung pada (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian
(independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian pada
nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Sedangkan
menurut ahli, Harold Alberty (1967:86), remaja adalah masa peralihan
antara masa anak dengan masa dewasa yakni berlangsung 11-13 tahun hingga
18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.
Sejauh
mana remaja dapat mengamalkan nilai-nilai yang sudah di anutnya serta
yang telah dicontohkan kepada mereka? Salah satu tugas perkembangan yang
sangat perlu dilakukukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan
oleh kelompoknya kemudian menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan
sosial tanpa bimbingan, pengawasan, motivasi, serta ancaman sebagaimana
pada waktu kecil.
Ia juga di tuntut untuk mampu mengendalikan tingkah lakunya karena dia bukan lagi tanggung jawabguru, orang tua atau orang lain.
Berdasarkan
penelitian empiris yang dilaksanakan Kohlberg pada tahun 1958,
sekaligus menjadi disertasi doktornya yang judul “The Developmental of
model of moral Think and choice in the years 10 to 16”. Menyebutkan
tahap-tahap perkembangan moral pada individu bisa di bagi yaitu sebagai
berikut:
1. Tingkat Prakonvensional
Dalam
tingkat ini anak tanggap pada aturan-aturan budaya dan terhadap
ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik atau buruk, benar atau salah.
Namun, hal ini semata-mata ditafsirkan dari sudut pandang sebab akibat
fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan
kebaikan).
2. Tingkat Konvensional
Dalam
tingkat ini, anak hanya menurut pada harapan keluarga, kelompok ataupun
bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut penting bagi dirinya sendiri,
tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.
3. Tingkat Pasca-konvensional
Dalam
tingkatan ini ada usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai serta
prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, lepas dari
otoritas kelompok atau orang yang berpegang terhadap prinsip-prinsip
tersebut dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan
kelompok itu.
Piaget
mengatakan bahwa masa remaja sudah mencapai tahap pelaksanan formal
dalam kemampuan kognitif. Ia dapat mempertimbangkan semua kemungkinan
untuk mengatasi suatu problem dari beberapa sudut pandang serta berani
mempertanggung jawabkan.
Sehingga kohlberg juga berpendapat, perkembangan moral ketiga, moralitas pasca-konvensional harus di gapai selama masa remaja.
Beberapa
prinsip di terimanya melalui dua tahap; pertama meyakini kalau dalam
keyakinan moral harus ada fleksibilitas sehingga bisa memungkinkan
dilakukannya perbaikan dan perubahan standar moral jika menguntungkan
semua anggota kelompok; kedua menyesuaikan diri dengan standar sosial
serta ideal untuk menjahui hukuman sosial terhadap dirinya pribadi,
sehingga perkembangan moralnya tak lagi atas dasar keinginan pribadi,
namun mernghormati orang lain.
Tapi,
pada kenyataan banyak ditemukan remaja yang belum dapat mencapai tahap
pasca-konvensional tersebut, dan pernah juga ditemukan remaja yang baru
mencapai tahap prakonvensional.
Fenomena itu banyak dijumpai dalam remaja yang pada umumnya mereka masih duduk di bangku SMA/SMK, seperti:
1. Berperilaku tidak terpuji, meremehkan peraturan dan disiplin sekolah yang ada
2. Senang berfoya-foya dan bergerombol/berkelompok
3. Mentaati peraturan sekolah, karena satu hal, takut pada hukuman
Dan
tidak jarang juga kita mendengar/melihat perkelahian,tawuran terjadi
antar remaja yang tidak jelas sebabnya. Bahkan perkelahian bisa
meningkat menjadi permusuhan kelompok, yang dapat menimbulkan korban
pada kedua belah pihak.
Jika
ditanyakan kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka bisa berbuat
kekerasan sesama remaja, dan apa masalahnya sehingga peristiwa yang
memalukan itu bisa terjadi, banyak yang menjawab bahwa mereka tidak
tahu, tidak sadar mengapa mereka secepat itu menjadi marah dan ikut
berkelahi.
Fenomena
di atas menggambarkan kalau upaya remaja untuk menggapai moralitas
dewasa; mengganti konsep moral yang bersifat khusus dengan konsep moral
yang bersifat umum, merumuskan konsep yang baru dikembangkan dalam kode
moral untuk pedoman tingkah laku, dan mengendalikan tingkah laku
pribadi, adalah upaya yang tidak mudah dicapai bagi mayoritas remaja.
Menurut Rice
(1999), masa remaja yakni masa peralihan, ketika individu yang
mempunyai kematangan. Pada masa tersebut, terdapat dua hal penting yang
menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri.
Dua
hal itu adalah, pertama hal yang bersifat eksternal, yakni adanya
perubahan dalam lingkungan. Pada tahap ini, masyarakat dunia sedang
mengalami banyak perubahan dengan begitu cepat yang dapat membawa
berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif bagi remaja.
kedua
adalah hal yang bersifat internal, adalah karakteristik dalam diri
remaja yang membuat relatif lebih bergejolak dibanding dengan masa
perkembangan lainnya (storm and stress period).
Supaya
remaja yang sedang mengalami perubahan cepat di dalam tubuhnya itu
dapat menyesuaikan diri dengan keadaan perubahan tersebut, maka berbagai
usaha baik dari pihak orang tua, guru maupun orang dewasa lainnya,
sangat diperlukan.
Salah
satu peran konselor yakni sebagai pembimbing dalam tugasnya yaitu
mendidik, guru harus membantu murid-muridnya supaya mencapai tahap
kedewasaan secara optimal.
Maksudnya
kedewasaan yang sempurna (sesuai dengan kodrat yang dimiliki murid)
Dalam peranan ini guru harus memperhatikan aspek-aspek pribadi pada
setiap murid antara lain kematangan, kebutuhan, kemampuan, kecakapannya
dan sebagainya supaya mereka dapat mencapai tingkat perkembangan dan
kedewasaan yang optimal.
Dalam
hal ini di samping orang tua, konselor di sekolah juga memiliki peranan
penting dalam membantu remaja untuk mengatasi kesulitanya, keterbukaan
hati konselor di dalam membantu kesulitan yang dialami oleh remaja, akan
menjadikan remaja sadar akan sikap serta tingkah lakunya yang kurang
baik.
Dengan
kemampuan pengendalian diri (self control) yang matang, remaja
diharapkan bisa mengendalikan dan menahan tingkah laku yang bersifat
tidak terpuji dan merugikan orang lain atau mampu mengendalikan serta
menahan tingkah laku yang bertentangan pada norma-norma sosial yang
berlaku.
Remaja/Murid
juga diharapkan bisa mengantisipasi akibat-akibat negatif yang akan
terjadi pada masa stroom and stress period. Dari fenomena yang terdapat
diatas penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana pendidikan anak
dalam keluarga buruh dengan judul “UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF
CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi”
B. Fokus Penelitian
Untuk
mempermudah penulis untuk menganalisis hasil penelitian, maka
Penelitian ini difokuskan terhadap Guru BK dalam rangka meningkatkan
Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi yang meliputi tujuan,
kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan dalam meningkatkan self
control hasil yang digapai, serta faktor pendukung dan penghambat.
C. Rumusan Masalah
Dalam sub penelitian ini pelaku peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Upaya yang dilakukan Guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?
2. Hasil apa yang digapai dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?
3. Apa faktor saja pendukung dan penghambat terhadap peningkatan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?
D. Tujuan Penelitian
Berdasar pada latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin digapai adalah:
1.
Untuk mendiskripsikan serta menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Guru
BK dalam angka meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
2. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hasil yang diraih dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
3.
Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan apa faktor pendukung dan
penghambat terhadap peningkatan self control siswa di MA Nurul Azhar
Ngawi.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Penelitian
ini diharapkan bisa menunjukkan bahwa konseling yang dilaksanakan oleh
Guru BK di MA Nurul Azhar Ngawi dapat membentuk self control siswa.
2. Manfaat praktis
Penelitian
ini bisa berguna sebagai masukan di dalam menentukan kebijakan lebih
lanjut bagi MA Nurul Azhar Ngawi mengenai peranan Guru BK dalam membantu
siswa siswa untuk membentuk self control yang baik.
II. STUDI KEPUSTAKAAN

From: projectproposalnola.com
Dalam
rangka memperkuat masalah yang akan di teliti maka penulis mengadakan
telaah pustaka dengan cara mencari serta menemukan teori-teori yang mau
di jadikan landasan penelitian, yaitu:
Self
Control (kontrol diri) yaitu kemampuan untuk membimbing tingkah
laku/etika sendiri; kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri;
kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau etika laku
impulsif.
Averill (dalam,
Herlina Siwi, 2000) Menyebutkan kontrol diri dengan sebutan kontrol
personal, yakni terdiri dari tiga jenis kontrol, sebagai berikut:
1.
Behavior Control (kontrol perilaku), yang terdiri dalam dua komponen,
adalah kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration) serta
kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).
2.
Cognitive control (kontrol kognitif), terdiri dari dua komponen, yakni
memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian
(appraisal).
3.
Decisional Control adalah kemampuan seseorang dalam memilih hasil atau
suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujui
nya, kontrol diri di dalam menentukan pilihan dapat berfungsi dengan
baik, dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan pada
diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.
Dalam mengukur kontrol diri dipakai aspek-aspek yakni sebagai berikut:
1. Kemampuan dalam mengontrol tingkahlaku
2. Kemampuan dalam mengontrol stimulus
3. Kemampuan dalam mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian
4. Kemampuan dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian.
5. Kemampuan dalam mengambil keputusan.
Tiga langkah orang dewasa untuk membangun kontrol diri pada anak, berikut:
1.
Langkah pertama yakni memperbaiki perilaku anda, sehingga dapat memberi
contoh control diri yang baik untuk anak dan menunjukkan bahwa hal
tersebut merupakan prioritas utama.
2.
Langkah kedua yaitu membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal
sehingga bisa menjadi motivator bagi diri mereka sendiri khususnya.
3.
Langkah ketiga yaitu mengajarkan cara membantu anak menggunakan kontrol
diri ketika menghadapi masalah dan stres, mengajarkan untuk berfikir
dahulu sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu yang aman
dan baik untuk dirinya maupun orang lain.
III. PROSEDUR PENELITIAN

From: uglydogbooks.com
A. Metode dan Alasan Menggunakan Metode
Pada
penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan kualitatif, yang
mempunyai karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data
langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil,
analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa
induktif serta makna merupakan hal yang esensial.
Terdapat
6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan
kualitatif, yakni: etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif,
partisipatories, serta penelitian tindakan kelas.
Dalam
hal ini penelitian yang digunakan yakni penelitian studi kasus (case
study), yaitu: suatu penelitian yang dilaksanakan untuk mempelajari
secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, serta interaksi
lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau
masyarakat.
B. Tempat Penelitian
Penelitian ini berlokasi di MA Nurul Azhar Ngawi karena di dasarkan pada beberapa pertimbangan:
MA
adalah Sekolah Menengah Atas yang mempunyai konotasi perilaku yang
tidak begitu baik menurut pandangan masyarakat. sehingga Konselor di MA
sangat berperan dalam memantau penyimpangan perilaku para siswa.
C. Instrumen Penelitian
pada penelitian ini, yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri.
D. Sampel Sumber Data
Sumber
data utama dalam penelitian ini yaitu kata-kata dan tindakan,
selebihnya adalah tambahan, seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian
sumber data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan tindakan sebagai
sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan catatan tertulis
adalah sumber data tambahan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi serta
dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat di mengerti
maksudnya secara baik, jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui
wawancara mendalam dan observasi pada latar, dimana fenomena tersebut
terjadi, di samping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi
(tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek).
Wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara antara lain
(a) mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain,
(b) mengkonstruksikan kebulatan-kebulatan demikian yang dialami masa lalu.
Pada
penelitian ini teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah
wawancara mendalam maksudnya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan
secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga
data-data yang dibutuhkan dalam penelitian bisa terkumpul secara
maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive Sampling
yakni pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan
peneliti.
Mengenai jumlah informan yang diambil terdiri dari:
1. Kepala Sekolah MA Nurul Azhar Ngawi;
2. Guru Bimbingan dan Konseling MA Nurul Azhar Ngawi;
3. Seluruh Wali Kelas MA Nurul Azhar Ngawi
Teknik
Observasi, dalam penelitian kualitatif observasi diklarifikasikan
menurut 3 cara. Pertama, pengamat bisa bertindak sebagai partisipan atau
nonpartisipan. Kedua, observasi dapat dilaksankan secara terus terang
atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar penelitian dan
dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi yang pertama di mana
pengamat bertindak sebagai partisipan.
Teknik
Dokumentasi, menggunakan teknik ini untuk mengumpulkan data dari sumber
non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman.
“Rekaman”
sebagai setiap tulisan/pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk
individual atau kelompok dengan tujuan membuktikan adanya suatu
peristiwa. Sedangkan “Dokumen” digunakan untuk mengacu atau bukan selain
pada rekaman, yakni tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan
tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto
dan lain sebagainya.
F. Teknik Analisis Data
Setelah
semua data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah pengelolahan dan
analisa data. Yang di maksud dengan analisis data ialah proses mencari
dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data
ke dalam kategori, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa,
menyusunnya ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan
dipelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
dirinya sendiri atau orang lain.
Analisis
data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, jadi
dalam analisis data selama di lapangan peneliti menggunakan model
spradley, yaitu tehnik analisa data yang di sesuaikan dengan tahapan
dalam penelitian, adalah:
1.
Dalam tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour
question, yaitu pertama dengan memilih situasi sosial (place, actor,
activity),
2.
Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seorang
informan “key informant” yang merupakan informan, berwibawa dan
dipercaya dapat “membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek
penelitian.
Kemudian
peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat
hasil wawancara yang dilakukan. Setelah itu perhatian peneliti pada
obyek penelitian dan memulai untuk mengajukan pertanyaan deskriptif,
dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan hasil
dari analisis wawancara berikutnya peneliti melakukan analisis domain.
3. Dalam tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus) analisa data dilakukan menggunakan analisis taksonomi.
4.
Dalam tahap selection (dilakukan dengan cara observasi terseleksi)
kemudian peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan
analisis komponensial.
5.
Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti
menemukan tema-tema budaya. Berdasar pada temuan tersebut, selanjutnya
peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA
Borba,
Michele. Membangun Kecerdasan Moral; Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak
Bermoral Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Ghufron,
M. Nur. ” Hubungan Kontrol diri, persepsi remaja terhadap penerapan
disiplin orang tua dengan prokrastinasi akademik.” Tesis Ilmu Psikologi
UGM Yogyakarta, 2003.
http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf
Gunarsa, D. Singgih. Bunga rampai Psikologi Perkembangan; Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.
Sugiyono, Metodologi Penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D Bandung: Alfabeta, 2006.
3. Apakah tugas kelompok anda termasuk proposal kualitatif atau kuantitatif?
Tugas kelompok besar kami termasuk proposal penelitian kuantitatif, dikarenakan kami menggunakan kuisioner.