1. PROPOSAL KUANTITATIF
PROPOSAL
PENELITIAN KUANTITATIF
PENGARUH METODE TANYA JAWAB TERHADAP
HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN FIQIH KELAS
IX MTS WALI SONGO SUKAJADI
Dosen Pngampu: Drs. Zuhairi,M.Pd
OLEH :
IMAS TITIN 14114451
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN )
JURAI SIWO METRO LAMPUNG
TAHUN AJARAN 2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..1
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………..2
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………………..2
- Identifikasi Masalah …………………………………………………………………………3
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………3
- Tujuan Dan Manfaat Penelitian ………………………………………………………….3
- Landasan Teori ………………………………………………………………………………..4
- Kerangka Berfikir …………………………………………………………………………….7
- Hipotesis ………………………………………………………………………………………..7
- Rancangan Penelitian ……………………………………………………………………….8
- Variabel Dan Definisi Variabel …………………………………………………………8
- Populasi,Sampel, Dan Tehnik Sampling …………………………………………….9
- Tehnik Pengumpulan Data ………………………………………………………………10
- Instrumen Penelitian……………………………………………………………………….10
- Tehnik Analisis Data ………………………………………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………12
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran adalah
proses yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik atau
lingkungan dengan peserta didik baik individual maupun kelompok dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran atau hasil belajar yang telah
ditentukan sebelumnya.
Menurut Hamalik (2009:1)
“hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi
perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”. Keberhasilan
suatu proses belajar mengajar tidak terlepas dari faktor-faktor yang
berperan didalamnya, baik faktor intern maupun eksternal. Faktor
internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar,
yang meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis, dan Faktor
eksternal adalah faktor yang ada di luar individu, meliputi: faktor
keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Metode pembelajaran adalah
salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi tercapainya hasil belajar.
Karena metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar
siswa yang tidak baik pula. Metode tanya jawab adalah cara penyajian
pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru
kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Dengan
penggunaan metode tanya jawab ini akan meningkatkan keaktifan siswa
berupa pertanyaan atau jawaban siswa sehingga berimplikasi pada
peningkatan hasil belajar siswa.
Dengan mengetahui hal
tersebut maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai Apakah ada
pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran
Fiqih Kelas IX di MTs Wali Songo Sukajadi. Hal tersebut didasarkan atas
hasil belajar di sekolah tersebut masih kurang, dan pembelajaran masih
bersifat teacher center
- Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah tersebut dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
- Hasil belajar yang masih kurang
- Metode pembelajaran yang bersifat teacher center
- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalahnya
adalah apakah ada pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar
siswa mata pelajaran Fiqih kelas IX di MTs Wali Songo Kampung Sukajadi ?
- Tujuan dan Manfaat Penelitan
Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar
siswa mata pelajaran Fiqih kelas IX di MTs Wali Songo Kampung Sukajadi.
Sedangkan iamanfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
antara lain:
- Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan pemikiran dan menjadi bahan pertimbangan dalam
menentukan langkah kebijaksanaan sebagai upaya peningkatan mutu
pendidikan.
- Manfaat Praktis
- Bagi pendidik, meningkatkan kekreatifitasan pendidik dalam menggunakan metode pembelajaran
- Menjadi referensi bagi Madrasah yang dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan hasil belajar
- Bagi peneliti, menambah wawasan dan pengalaman yang berharga sebelum terjun langsung dalam bidang pendidikan.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR,
DAN PENGAJUAN JUDUL
- LANDASAN TEORI
- HASIL BELAJAR
- Pengertian Hasil Belajar
- Domain kognitif mencakup: knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application ( menerapkan), analysis( menguraikan, menentukan hubungan), synthesis 9mengorganisasikan. merencanakan, membentuk bangunan baru), evaluating( menilai)
- Domain afektif mencakup: receiving ( menerima), responding ( memberikan respon), valuing (nilai), organization ( organisasi), characterization ( karakterisasi)
- Domain Psikomotorik: initiatory, pre-routine, routinized, keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan intelektual[2]
- Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
- Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah, psikologis, dan kelelahan.
- Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
- METODE TANYA JAWAB
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa metode mengajar mempengaruhi belajar. metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula, dan sebaliknya. Biasanya guru lebih sering menggunkan metode ceramah saja, maka implikasinya adalah siswa akan cepat bosan dan mengantuk, pasif dan hanya mencatat saja. Guru yang progresif berani mencoba metode baru yang dapat meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan motivasi siswa dalam belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus setepat, efisien, dan seefektif mungkin. Salah satu metode pembelajaran yang dapt meningkatkan keaktifan siswa adalah metode tanya jawab.
Metode tanya jawab dalam dunia pendidikan merupakan salah satu metode pembalajaran konvensional yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas, selain metode ceramah dan diskusi. metode ini sering disandingkan dengan metode ceramah dan metode diskusi. Metode ini memang tepat digunakan untuk menjawab materi yang dirasa belum dipahami oleh siswa. Hal ini juga senada dengan pendapatnya Roestiyah (2008:129) yang menyatakan bahwa:
Metode tanya jawab merupakan suatu teknik untuk memberi siswa agar bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan pelajaran, atau guru yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, siswa menjawab. Pasti saja pertanyaan-pertanyaan itu mengenai isi pelajaran yang sedang diajarkan guru; dan siswa seharusnya sudah mengerti; atau pertanyaan yang lebih luas asal berkaitan dengan pelajaran, atau juga mungkin pengalaman yang dihayati dengan tanya-jawab itu, pelajaran akan lebih mendalam dan meluas.[5]
Menurut syaiful bahri djamarah dan aswan zain tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama oleh guru kepada siswa dan sebaliknya.Sedangkan menurut daryanto tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama dari penyaji kepada peserta, tetapi dapat pula dari peserta kepada penyaji.[6]
Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah dari guru kepada siswa dari siswa kepada guru agar diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau siswa. Dalam metode ini guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru.
- KERANGKA BERFIKIR
- HIPOTESIS PENELITIAN
Ha : Terdapat pengaruh metode tanya jawab terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Fiqih MTs Wali Songo Sukajadi
Ho : Tidak ada pengaruh metode tanya jawab terhadpa hasil belajar mata siswa mata pelajaran Fiqih MTs Wali Songo Sukajadi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
- RANCANGAN PENELITIAN
- Peneliti melakukan persiapan berupa rencana pembelajaran yang akan dilakukan dan membagi sampel menjadi dua kelompok serta menentukan kelompok mana yang akan menjadi kelompok ekperimen dan mana yang akan menjadi kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen, pembelajaran menggunakan metode tanya jawab, dan pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah.
- Tahap kedua peneliti melakukan langkah pelaksanaan yang meliputi penyampaian bahan pelajaran dengan menggunakan metode tanya jawab pada kelompok eksperimen, dan memberi kesempatan kepada peserta didik atau siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan.
- Tahap ketiga adalah tahap evaluasi adalah mengadakan penilaian terhadap pemahaman siswa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
- Desain pos tes kelompok kontrol subjek random
| Kelompok | Perlakuan | Postes | |
| (R) | Eksperimen | X | O2 |
| (R) | Kontrol | – | O2 |
- VARIABEL DAN DEFINISI VARIABEL
- Metode tanya jawab sebagai variabel bebas yang mempengaruhi hasil hasil belajar.
- Keaktifan siswa merupakan variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi tingkat hubungan (pengaruh) variabel bebas terhadap variabel terikat. Atau hubungan/pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat memiliki nilai yang berbeda pada level yang berbeda.
- Hasil belajar menjadi variabel terikat. yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dan variabel moderator
- POPULASI, SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING
- Populasi
- Sampel
- Teknik Sampling
- TEKNIK PENGUMPULAN DATA
- Observasi, Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian. yaitu gejala-gejala dalam proses pembelajaran
- Tes, yaitu serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Penggunaan teknik ini yaitu untuk mengukur pengetahuan siswa setelah mengikuti pembelajaran.
- INSTRUMEN PENELITIAN DATA
- TEKNIK ANALISIS DATA
Keterangan: X2 : Chi Kuadrat
fo : frekuensi yang diperoleh dari tes
fh : frekuensi yang diharapkan[9]
DAFTAR PUSTAKA
Thobroni,Muhammad and Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran, 2nd edition (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013)
Jubaedah, Endang, Penerapan Metode Tanya Jawab dengan Teknik Probing-Prompting untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Sejarah di Kelas XI IPA 4 SMAN Bandung. (2013)
Bahri Djamarah,Syaiful and Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010)
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011)
Sudijino,Anas, Pengantar Statistika Pendidikan, ( Jakarta: Raaja Grafindo, 2008)
[1] Muhammad Thobroni and Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran, 2nd edition (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), p. 22
[2] Ibid., p. 24.
[3] Ibid., p. 32.
[4] Ibid., p. 65.
[5] Endang Jubaedah, Penerapan Metode Tanya Jawab dengan Teknik Probing-Prompting untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Sejarah di Kelas XI IPA 4 SMAN Bandung. (2013), p. 1.
[6] Syaiful Bahri Djamarah and Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), p. 94.
[7]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 117.
[8]Ibid., h.118.
[9]Anas Sudijino, Pengantar Statistika Pendidikan, ( Jakarta: Raaja Grafindo, 2008), h. 250.
REF : https://1massite.wordpress.com/2017/09/27/contoh-format-proposal-kuantitatif/
2. PROPOSAL KUALITATIF
UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi
PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF
Disusun untuk Memenuhi Tugas Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : ………
Oleh:
………….
………….
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI BALIKPAPAN
Tahun 20../20..
Tahun 20../20..
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..1
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………..2
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………………..2
- Fokus Penelitian …………………………………………………………………………3
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………3
- Tujuan Dan Manfaat Penelitian ………………………………………………………….3
- Landasan Teori ………………………………………………………………………………..4
- Kerangka Berfikir …………………………………………………………………………….7
- Hipotesis ………………………………………………………………………………………..7
- Metode Dan Alasan mengunakan metode ………………………………………………….8
- Tempat Penelitian …………………………………………………………8
- Sampel Data…………………………………………….9
- Teknik pengumpulan data ………………………………………………………………10
- Teknik Analisis data…………………………………………………………………11
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………12
- PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah pubertas atau adolescensia umum di maknai dengan masa remaja, yaitu masa perkembangan sifat tergantung pada (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian pada nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Sedangkan menurut ahli, Harold Alberty (1967:86), remaja adalah masa peralihan antara masa anak dengan masa dewasa yakni berlangsung 11-13 tahun hingga 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.
Sejauh mana remaja dapat mengamalkan nilai-nilai yang sudah di anutnya serta yang telah dicontohkan kepada mereka? Salah satu tugas perkembangan yang sangat perlu dilakukukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompoknya kemudian menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan sosial tanpa bimbingan, pengawasan, motivasi, serta ancaman sebagaimana pada waktu kecil.
Ia juga di tuntut untuk mampu mengendalikan tingkah lakunya karena dia bukan lagi tanggung jawabguru, orang tua atau orang lain.
Berdasarkan penelitian empiris yang dilaksanakan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya yang judul “The Developmental of model of moral Think and choice in the years 10 to 16”. Menyebutkan tahap-tahap perkembangan moral pada individu bisa di bagi yaitu sebagai berikut:
1. Tingkat Prakonvensional
Dalam tingkat ini anak tanggap pada aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik atau buruk, benar atau salah. Namun, hal ini semata-mata ditafsirkan dari sudut pandang sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan).
2. Tingkat Konvensional
Dalam tingkat ini, anak hanya menurut pada harapan keluarga, kelompok ataupun bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut penting bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.
3. Tingkat Pasca-konvensional
Dalam tingkatan ini ada usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai serta prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, lepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang terhadap prinsip-prinsip tersebut dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok itu.
Piaget mengatakan bahwa masa remaja sudah mencapai tahap pelaksanan formal dalam kemampuan kognitif. Ia dapat mempertimbangkan semua kemungkinan untuk mengatasi suatu problem dari beberapa sudut pandang serta berani mempertanggung jawabkan.
Sehingga kohlberg juga berpendapat, perkembangan moral ketiga, moralitas pasca-konvensional harus di gapai selama masa remaja.
Beberapa prinsip di terimanya melalui dua tahap; pertama meyakini kalau dalam keyakinan moral harus ada fleksibilitas sehingga bisa memungkinkan dilakukannya perbaikan dan perubahan standar moral jika menguntungkan semua anggota kelompok; kedua menyesuaikan diri dengan standar sosial serta ideal untuk menjahui hukuman sosial terhadap dirinya pribadi, sehingga perkembangan moralnya tak lagi atas dasar keinginan pribadi, namun mernghormati orang lain.
Fenomena itu banyak dijumpai dalam remaja yang pada umumnya mereka masih duduk di bangku SMA/SMK, seperti:
1. Berperilaku tidak terpuji, meremehkan peraturan dan disiplin sekolah yang ada
2. Senang berfoya-foya dan bergerombol/berkelompok
3. Mentaati peraturan sekolah, karena satu hal, takut pada hukuman
Dan tidak jarang juga kita mendengar/melihat perkelahian,tawuran terjadi antar remaja yang tidak jelas sebabnya. Bahkan perkelahian bisa meningkat menjadi permusuhan kelompok, yang dapat menimbulkan korban pada kedua belah pihak.
Jika ditanyakan kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka bisa berbuat kekerasan sesama remaja, dan apa masalahnya sehingga peristiwa yang memalukan itu bisa terjadi, banyak yang menjawab bahwa mereka tidak tahu, tidak sadar mengapa mereka secepat itu menjadi marah dan ikut berkelahi.
Fenomena di atas menggambarkan kalau upaya remaja untuk menggapai moralitas dewasa; mengganti konsep moral yang bersifat khusus dengan konsep moral yang bersifat umum, merumuskan konsep yang baru dikembangkan dalam kode moral untuk pedoman tingkah laku, dan mengendalikan tingkah laku pribadi, adalah upaya yang tidak mudah dicapai bagi mayoritas remaja.
Menurut Rice (1999), masa remaja yakni masa peralihan, ketika individu yang mempunyai kematangan. Pada masa tersebut, terdapat dua hal penting yang menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri.
Dua hal itu adalah, pertama hal yang bersifat eksternal, yakni adanya perubahan dalam lingkungan. Pada tahap ini, masyarakat dunia sedang mengalami banyak perubahan dengan begitu cepat yang dapat membawa berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif bagi remaja.
kedua adalah hal yang bersifat internal, adalah karakteristik dalam diri remaja yang membuat relatif lebih bergejolak dibanding dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period).
Supaya remaja yang sedang mengalami perubahan cepat di dalam tubuhnya itu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan perubahan tersebut, maka berbagai usaha baik dari pihak orang tua, guru maupun orang dewasa lainnya, sangat diperlukan.
Salah satu peran konselor yakni sebagai pembimbing dalam tugasnya yaitu mendidik, guru harus membantu murid-muridnya supaya mencapai tahap kedewasaan secara optimal.
Maksudnya kedewasaan yang sempurna (sesuai dengan kodrat yang dimiliki murid) Dalam peranan ini guru harus memperhatikan aspek-aspek pribadi pada setiap murid antara lain kematangan, kebutuhan, kemampuan, kecakapannya dan sebagainya supaya mereka dapat mencapai tingkat perkembangan dan kedewasaan yang optimal.
Dalam hal ini di samping orang tua, konselor di sekolah juga memiliki peranan penting dalam membantu remaja untuk mengatasi kesulitanya, keterbukaan hati konselor di dalam membantu kesulitan yang dialami oleh remaja, akan menjadikan remaja sadar akan sikap serta tingkah lakunya yang kurang baik.
Dengan kemampuan pengendalian diri (self control) yang matang, remaja diharapkan bisa mengendalikan dan menahan tingkah laku yang bersifat tidak terpuji dan merugikan orang lain atau mampu mengendalikan serta menahan tingkah laku yang bertentangan pada norma-norma sosial yang berlaku.
Remaja/Murid juga diharapkan bisa mengantisipasi akibat-akibat negatif yang akan terjadi pada masa stroom and stress period. Dari fenomena yang terdapat diatas penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana pendidikan anak dalam keluarga buruh dengan judul “UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi”
B. Fokus Penelitian
Untuk mempermudah penulis untuk menganalisis hasil penelitian, maka Penelitian ini difokuskan terhadap Guru BK dalam rangka meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi yang meliputi tujuan, kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan dalam meningkatkan self control hasil yang digapai, serta faktor pendukung dan penghambat.
C. Rumusan Masalah
Dalam sub penelitian ini pelaku peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut :1. Bagaimanakah Upaya yang dilakukan Guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?
2. Hasil apa yang digapai dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?
3. Apa faktor saja pendukung dan penghambat terhadap peningkatan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?
D. Tujuan Penelitian
Berdasar pada latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin digapai adalah:1. Untuk mendiskripsikan serta menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Guru BK dalam angka meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
2. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hasil yang diraih dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
3. Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan apa faktor pendukung dan penghambat terhadap peningkatan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa menunjukkan bahwa konseling yang dilaksanakan oleh Guru BK di MA Nurul Azhar Ngawi dapat membentuk self control siswa.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini bisa berguna sebagai masukan di dalam menentukan kebijakan lebih lanjut bagi MA Nurul Azhar Ngawi mengenai peranan Guru BK dalam membantu siswa siswa untuk membentuk self control yang baik.
II. STUDI KEPUSTAKAAN

From: projectproposalnola.com
Self Control (kontrol diri) yaitu kemampuan untuk membimbing tingkah laku/etika sendiri; kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau etika laku impulsif.
Averill (dalam, Herlina Siwi, 2000) Menyebutkan kontrol diri dengan sebutan kontrol personal, yakni terdiri dari tiga jenis kontrol, sebagai berikut:
1. Behavior Control (kontrol perilaku), yang terdiri dalam dua komponen, adalah kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration) serta kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).
2. Cognitive control (kontrol kognitif), terdiri dari dua komponen, yakni memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal).
3. Decisional Control adalah kemampuan seseorang dalam memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujui nya, kontrol diri di dalam menentukan pilihan dapat berfungsi dengan baik, dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.
Dalam mengukur kontrol diri dipakai aspek-aspek yakni sebagai berikut:
1. Kemampuan dalam mengontrol tingkahlaku
2. Kemampuan dalam mengontrol stimulus
3. Kemampuan dalam mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian
4. Kemampuan dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian.
5. Kemampuan dalam mengambil keputusan.
Tiga langkah orang dewasa untuk membangun kontrol diri pada anak, berikut:
1. Langkah pertama yakni memperbaiki perilaku anda, sehingga dapat memberi contoh control diri yang baik untuk anak dan menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan prioritas utama.
2. Langkah kedua yaitu membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal sehingga bisa menjadi motivator bagi diri mereka sendiri khususnya.
3. Langkah ketiga yaitu mengajarkan cara membantu anak menggunakan kontrol diri ketika menghadapi masalah dan stres, mengajarkan untuk berfikir dahulu sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu yang aman dan baik untuk dirinya maupun orang lain.
III. PROSEDUR PENELITIAN

From: uglydogbooks.com
Pada penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan kualitatif, yang mempunyai karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif serta makna merupakan hal yang esensial.
Terdapat 6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yakni: etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, partisipatories, serta penelitian tindakan kelas.
Dalam hal ini penelitian yang digunakan yakni penelitian studi kasus (case study), yaitu: suatu penelitian yang dilaksanakan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, serta interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.
B. Tempat Penelitian
Penelitian ini berlokasi di MA Nurul Azhar Ngawi karena di dasarkan pada beberapa pertimbangan:
MA adalah Sekolah Menengah Atas yang mempunyai konotasi perilaku yang tidak begitu baik menurut pandangan masyarakat. sehingga Konselor di MA sangat berperan dalam memantau penyimpangan perilaku para siswa.
C. Instrumen Penelitian
pada penelitian ini, yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri.
D. Sampel Sumber Data
Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan, seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan tindakan sebagai sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan catatan tertulis adalah sumber data tambahan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi serta dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat di mengerti maksudnya secara baik, jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar, dimana fenomena tersebut terjadi, di samping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek).
Wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara antara lain
(a) mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain,
(b) mengkonstruksikan kebulatan-kebulatan demikian yang dialami masa lalu.
Pada penelitian ini teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam maksudnya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga data-data yang dibutuhkan dalam penelitian bisa terkumpul secara maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive Sampling yakni pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan peneliti.
Mengenai jumlah informan yang diambil terdiri dari:
1. Kepala Sekolah MA Nurul Azhar Ngawi;
2. Guru Bimbingan dan Konseling MA Nurul Azhar Ngawi;
3. Seluruh Wali Kelas MA Nurul Azhar Ngawi
Teknik Observasi, dalam penelitian kualitatif observasi diklarifikasikan menurut 3 cara. Pertama, pengamat bisa bertindak sebagai partisipan atau nonpartisipan. Kedua, observasi dapat dilaksankan secara terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar penelitian dan dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi yang pertama di mana pengamat bertindak sebagai partisipan.
Teknik Dokumentasi, menggunakan teknik ini untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman.
“Rekaman” sebagai setiap tulisan/pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau kelompok dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa. Sedangkan “Dokumen” digunakan untuk mengacu atau bukan selain pada rekaman, yakni tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto dan lain sebagainya.
F. Teknik Analisis Data
Setelah semua data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah pengelolahan dan analisa data. Yang di maksud dengan analisis data ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusunnya ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh dirinya sendiri atau orang lain.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, jadi dalam analisis data selama di lapangan peneliti menggunakan model spradley, yaitu tehnik analisa data yang di sesuaikan dengan tahapan dalam penelitian, adalah:
1. Dalam tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, yaitu pertama dengan memilih situasi sosial (place, actor, activity),
2. Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seorang informan “key informant” yang merupakan informan, berwibawa dan dipercaya dapat “membukakan pintu” kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian.
Kemudian peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil wawancara yang dilakukan. Setelah itu perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai untuk mengajukan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan hasil dari analisis wawancara berikutnya peneliti melakukan analisis domain.
3. Dalam tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus) analisa data dilakukan menggunakan analisis taksonomi.
4. Dalam tahap selection (dilakukan dengan cara observasi terseleksi) kemudian peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan analisis komponensial.
5. Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasar pada temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.
DAFTAR PUSTAKA
Borba, Michele. Membangun Kecerdasan Moral; Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Ghufron, M. Nur. ” Hubungan Kontrol diri, persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orang tua dengan prokrastinasi akademik.” Tesis Ilmu Psikologi UGM Yogyakarta, 2003. http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf
Gunarsa, D. Singgih. Bunga rampai Psikologi Perkembangan; Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.
Sugiyono, Metodologi Penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D Bandung: Alfabeta, 2006.
3. Apakah tugas kelompok anda termasuk proposal kualitatif atau kuantitatif?
Tugas kelompok besar kami termasuk proposal penelitian kuantitatif, dikarenakan kami menggunakan kuisioner.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar